8 Jul 2020

Kenapa Kita Tidak Boleh Mengonsumsi Gula Terlalu Banyak?

Banyak orang yang sudah paham bahwa mengonsumsi gula tidak terlalu baik untuk tubuh. Akan tetapi, belum banyak yang sadar seberapa bahayanya memakan pemanis makanan satu ini. Melansir situs Healthline, sejumlah riset membuktikan jika seseorang yang sering mengonsumsi makanan atau minuman dengan kandungan gula tinggi lebih mudah obesitas.

Penyakit dan komplikasi karena gula

Gula juga bisa memengaruhi hormon-hormon dalam tubuh yang mengatur rasa lapar dan kenyang. Sebagai akibatnya, hal tersebut membuat adanya peningkatan asupan kalori serta penambahan berat badan. Dampak lain dari terlalu banyak mengonsumsi pemanis ini ialah rusaknya sistem metabolisme tubuh. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa meningkatkan kadar insulin dan cadangan lemak dalam tubuh.
Selain kondisi-kondisi di atas, penyakit komplikasi lain yang bisa menyerang seseorang dengan konsumsi gula tinggi adalah kesehatan mulut yang kurang baik, sampai penyakit mematikan seperti jantung, diabetes, dan kanker. Masih menurut Healthline, gula juga bersifat adiktif. Artinya adalah ia dapat membuat kadar dopamin seseorang meningkat dan mengidamkan gula terus-terusan. Kondisi ini paling sering terjadi pada seseorang yang sedang setres. Oleh sebab itu, penting sekali bagimu untuk dapat terus mengontrol jumlah gula yang kamu konsumsi sehari-hari.

Bahan alami pengganti gula

Meski demikian, menghilangkan gula dalam makanan atau minuman bukanlah perkara mudah bagi banyak orang. Tak heran jika banyak masyarakat yang menyiasatinya dengan menggunakan produk gula rendah kalori. Padahal, pemanis buatan seperti ini masih menjadi kontroversi. Mengutip sebuah hasil penelitian tentang pemanis buatan dalam situs Hello Sehat, rupanya konsumsi pemanis buatan berkelanjutan (yang diberikan pada tikus percobaan selama 11 pekan) membuat gula darah tikus tersebut lebih tinggi ketimbang dengan tikus yang diberi air gula atau air saja.
Lalu, apakah ada bahan-bahan alami untuk pengganti gula? Tentu saja ada. Tiga bahan berikut yang dikutip dari situs Healthline adalah contohnya:

  1. Gula kelapa. Di Indonesia, gula satu ini kerap dikenal sebagai gula aren. Ya, gula kelapa adalah gula berwarna merah yang diperas dari nira kelapa. Gula kelapa mengandung sejumlah nutrisi baik, termasuk zat besi, seng, kalsium, kalium, juga antioksidan. Meski begitu, banyak pihak meyakini jika kadar gula kelapa tak berbeda jauh dengan gula biasa. Jadi, penggunaannya tetap tidak boleh banyak-banyak, ya.
  2. Madu. Mungkin pemanis satu ini tak asing lagi untukmu. Ya, cairan kental dari lebah madu ini mengandung sejumlah vitamin dan mineral, juga antioksidan yang baik untuk tubuh. Madu dapat menggantikan gula biasa, untuk kesehatan yang lebih baik. Namun, jangan gunakan madu yang sudah dicampur dengan gula, ya. Sebab hal itu sia-sia saja.
  3. Gula tetes. Nama lain gula tetes adalah molase. Cairan seperti sirup ini terbuat dari rebusan gula tebu atau jus bit. Molase mengandung beberapa vitamin, mineral, antioksidan, zat besi, kalium, serta kalsium. Sama seperti dua jenis pengganti sebelumnya, konsumsi molase juga tidak bisa terlalu banyak.
Ternyata benar, ya, bahwa sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Nah, sekarang kamu sudah tahu, kan, alasan di balik tidak bolehnya kita mengonsumsi gula terlalu banyak? Semoga artikel di atas berguna untukmu, ya! (AP)

18 Jun 2020

Ini Dampak yang Terjadi Jika Memiliki Gaya Hidup Pasif

Pergi ke kantor menggunakan mobil pribadi lengkap dengan supirnya. Sampai kantor langsung duduk dan bekerja di depan laptop. Jam makan siang makan bekal yang sudah dibawa depan laptop dan tetap berada di sana sampai jam pulang kerja. Saat pulang kembali duduk dengan nyaman di mobil sampai ke rumah.
Jika aktivitas keseharian kamu seperti itu, maka waspadalah karena kamu bisa mengalami masalah kesehatan akibat dari gaya hidup yang pasif. Sebab aktivitas yang telah disebutkan di atas hanya menuntuk gerakan fisik yang sangat sedikit. Belum lagi jika kamu menggunakan lift untuk naik ke lantai tempat kerjamu. Kamu hanya menghabiskan sebagian besar waktumu dengan duduk dan saat weekend tiba, mungkin kamu juga memanfaatkannya untuk bermalas-malasan di kamar.
Gaya hidup seperti ini sudah menjadi hal yang umum di masyarakat. Apalagi dengan banyaknya pekerjaan yang menuntut Anda untuk selalu stand by depan komputer atau laptop. Padahal, gaya hidup seperti ini sangat berisiko karena bisa meningkatkan risiko kamu menderita beberapa penyakit berikut:

  • Obesitas
  • Penyakit jantung
  • Tekanan darah tinggi
  • Stroke
  • Diabetes

Risiko atas berbagai penyakit di atas akan semakin meningkat lagi dengan kebiasaan tidak sehat lainnya, seperti kebiasaan kamu mengonsumsi makanan fast food yang tinggi lemak, gula, dan garam. Apalagi saat ini hampir semua makanan kekinian yang beredar di masyarakat adalah makanan tidak sehat.
Lalu, bagaimana cara mengatasinya?
Sudah jelas, kamu harus mulai mengubah gaya hidup pasif menjadi gaya hidup yang aktif. Jika pekerjaanmu menuntut untuk bekerja depan komputer, maka kamu bisa coba untuk melakukan beberapa hal berikut:

  • Bangun lebih pagi untuk menyempatkan diri berolahraga
  • Jika pagi tidak sempat, ajak teman-temanmu untuk berolahraga bersama malam hari saat pulang kerja
  • Jika memungkinkan, gunakan transportasi umum karena kebiasaan ini akan memaksamu untuk aktif bergerak. 
  • Sesekali bergeraklah ke luar ruangan selama beberapa saat. Misalnya ke toilet atau jika kamu sedang butuh berdiskusi dengan rekan kerja yang mejanya agak jauh, tidak ada salahnya jika kamu berjalan menghampirinya.
  • Jangan menghabiskan waktu libur saat akhir pekan hanya dengan bermalas-malasan. Tidak ada salahnya jika kamu mencari aktivitas lain seperti memasak, bersih-bersih rumah, mengurus tanaman, dan sebagainya.

Berolahraga secara rutin memang cara terbaik untuk mengatasi gaya hidup pasif. Namun jika kamu tidak bisa melakukannya, kamu bisa mengakalinya dengan meningkatkan aktivitas fisik sederhana lainnya seperti beberapa cara di atas. Semoga bermanfaat!

5 Mei 2020

Alergi VS Intoleran Makanan, Apa Bedanya?

Alergi, adalah kondisi ketika seseorang mengalami suatu gejala tertentu setelah mengonsumsi suatu jenis makanan. Misalnya pada seseorang yang alergi udang, mereka mungkin akan mulai mengalami gejala masalah kesehatan jika mengonsumsi makanan yang mengandung udah. Beberapa gejala yang sering muncul adalah mual, muntah, muncul gatal, sesak napas, dan sebagainya.
Namun, bagaimana dengan intoleran? Apakah intoleran dan alergi adalah suatu kondisi yang sama?
Sebenarnya kedua istilah ini digunakan untuk menggambarkan masalah yang berbeda. Untuk lebih jelasnya, berikut ini adalah detailnya.

Intoleran

Pada dasarnya, intoleran juga memiliki arti yang tidak berbeda jauh dari alergi, yaitu munculnya suatu gejala setelah seseorang mengonsumsi sesuatu. Namun pada intoleran, tidak melibatkan imun tubuh sama sekali. Itulah sebabnya, gejala pada seseorang yang mengalami intoleran biasanya terbatas pada masalah pencernaan.
Salah satu Biasanya seseorang yang mengalami intoleran terhadap suatu jenis makanan tertentu karena adanya masalah pada enzim tubuhnya. Dikutip dari medicalnewstoday, enzim merupakan zat yang berfungsi penting dalam pengolahan makanan dalam tubuh. Ketika seseorang kehilangan atau tidak memiliki jumlah enzim sesuai dengan yang dibutuhkan, maka tubuh tidak bisa mencerna suatu makanan tertentu secara sempurna.
Seseorang yang mengalami intoleran tidak menunjukkan gejala langsung setelah selesai makan, melainkan setelah beberapa saat. Inilah yang membuat seseorang terkadang tidak menyadari bahwa dirinya mengalami intoleran terhadap suatu jenis makanan atau zat tertentu.

Alergi

Berbeda dengan intoleran yang tidak berkaitan dengan imun tubuh, pada alergi penyebabnya justru adalah imun tubuh. Berdasarkan situs mayoclinic, alergi makanan menyebabkan sistem imun bereaksi dan memengaruhi beberapa organ yang akan membuat timbulnya berbagai gejala.
Seseorang yang mengalami alergi makanan akan langsung mengalami gejala segera setelah mengonsumsi makanan alergen tersebut. Bahkan meskipun dalam porsi yang sangat kecil sekalipun. Dan gejala yang muncul akibat alergi ini terkadang tidak mudah disembuhkan sendiri dengan obat anti alergi sehingga membutuhkan bantuan dokter.

Gejala

Gejala yang timbul pada kedua masalah di atas beberapa di antaranya sama, yaitu:

  • Mual terkadang disertai muntah
  • Diare
  • Sakit perut
  • Pusing

Hal yang membedakan adalah gejala yang terjadi pada seseorang dengan intoleran biasanya hanya terbatas pada masalah pencernaan. Namun untuk alergi, gejala yang muncul bisa lebih berbahaya dan bahkan bisa menyebabkan kematian, seperti sesak napas.

6 Apr 2020

Ini Dia Jenis Lipstik yang Bisa Dipakai untuk Menemani Harimu!

Salah satu produk makeup yang tidak akan pernah ketinggalan digunakan wanita adalah lipstik. Ya, penggunaan lipstrik memang dapat meningkatkan penampilan serta membuat wajah terlihat lebih cerah karena itulah tak heran jika banyak wanita yang menggunakannya. Tidak hanya itu saja, banyak pilihan warna lipstik yang bisa digunakan seperti Lipstik Mizzu berwarna cerah, misalnya sehingga makin disukai.
Namun demikian, tahukah kamu, jika lipstik yang biasa kamu pakai terdiri dari beragam jenis, loh. Apa sajakah? Langsung disimak! (source: cosmopolitan)

  1. Satin. Melansir dari cosmopolitan, lipstik jenis satin memiliki tekstur yang lembap dan tidak memberikan kesan full coverage. Dari segi warna, lipstik ini memang terlihat sedikit pekat, tapi ketika diaplikasikan ke bibir terasa lebih tipis dan lembut. Pengaplikasian lipstik ini akan semakin terlihat sempurna jika dipadupadankan dengan makeup bergaya Korea. Dijamin, wajah pun akan tampak lebih bercahaya dan tampil anggun. 
  2. Creamy. Berbeda dengan satin, lipstik creamy ini memberikan warna yang lebih intens dengan efek dewy. Biasanya, sebelum mengaplikasikan lipstik jenis ini banyak yang memakai lip liner berwarna senada terlebih dahulu. Tujuannya adalah untuk menjaga keawetan lipstik sekaligus membuatnya tetap rapi. Namun, jika ingin membuat lipstik satu ini tampak seperti matte, maka tinggal mengolesi bibir dengan lipstik dan tekan-tekan tisu di bibir. 
  3. Sheer. Lipstik berjenis sheer ini tidak memiliki pigmentasi kuat sehingga ketika diaplikasikan ke bibir tidak akan sampai menutupi warna alami bibir melainkan membuatnya terlihat semakin cerah. Di dalam lipstik jenis ini terdapat kandungan moisturizer, yang mana bisa membantu menjaga kelembapan bibir. Tertarik mencobanya?
  4. Matte. Bisa dikatakan, lipstik jenis matte ini sangat dikagumi oleh kaum wanita karena penggunaannya yang sangat tahan lama, tidak berkilau, sekaligus pigmented. Lipstik satu ini juga banyak yang dibuat dalam bentuk liquid sehingga mudah diaplikasikan ke bagian bibir. Namun, sayang, lipstik jenis ini membuat bibir terlihat kering dan memperlihatkan garis bibir karena itu sebelum mengaplikasikannya sangat disarankan memakai lip balm terlebih dahulu. 

Itu dia beberapa jenis lipstik yang bisa digunakan untuk menemani harimu. So, kamu lebih sering menggunakan jenis yang mana, nih? –SH–

26 Des 2019

Tingkatan Luka Bakar yang Harus Anda Ketahui

Agar tindakan pengobatan luka bakar tidak salah sasaran, maka Anda harus benar-benar tahu seperti apa kondisi luka tersebut. Luka bakar sendiri dalam dunia kedokteran biasa disebut dengan combustio, yaitu perlakuan atau cedera tubuh yang disebabkan oleh suhu tinggi atau diakibatkan oleh sentuhan panas. Biasanya dokter juga memberikan obat berupa salep untuk luka bakar dengan dosisi yang disesuaikan berdasarkan usia pasien.

Luka bakar sendiri tidak selalu diakibatkan terkena api, bisa saja akibat tumpahan air panas, sengatan listrik,  atau terkena benda panas. Semua kondisi luka bakar tersebut bermacam-macam tingkatan dan penyembuhannya pun memerlukan waktu yang berbeda pula.

Berdasarkan tingkatannya, luka bakar pada kulit  terdiri dari 3 pengelompokan. Di antaranya adalah

Tingkatan pertama, yang dianggap masih ringan karena terjadi hanya pada bagian luar permukaan kulit saja. Efek dari luka bakar ini mungkin sedikit perih , kemerahan, dan bengkak. Tindakan pengobatannya pun bisa dilakukan di rumah tanpa harus pergi ke dokter.

Tingkatan kedua, yaitu luka terjadi pada lapisan dalam kulit. Kondisi luka bakar seperti ini mengakibatkan kulit menjadi melepuh. Terkadang, jika sudah terasa perih dan nyeri, pasti memerlukan bantuan dari dokter agar luka cepat kering dan sembuh.

Sedangkat luka bakar tingkat ketiga, yaitu yang paling parah. Luka bakar ini menimbulkan efek yang cukup parah pada permukaan kulit bagian luar dan dalam. Gejala yang ditimbulkan meliputi warna kulit putih mengkilap seperti halnya lilin, gosong, serta tekstur kulit tidak lagi rata. Jika kondisi lebih parah dari itu, mungkin sudah masuk pada kategori luka bakar tingkat empat, yaitu sudah merusak sendi dan tulang.

Mengetahui tiap tingkatan luka bakar, pastinya menentukan cara pengobatan atau penanganan yang lebih tepat. Seperti halnya seseorang yang mengalami luka bakar serius, yaitu berada pada tingkat atau derajat 3 dan 4, maka pengobatan yang harus dilakukan tidak bisa sembarangan, yakni harus segera dibawa ke UGD rumah sakit. Akan tetapi, jika luka bakar masih berada pada derajat 1 dan 2 , maka tindakan pengobatan pun masih bisa dilakukan di rumah, baik dengan bahan-bahan alami maupun menggunakan salep khusus luka bakar yang bisa dibeli di apotik terdekat.

Untuk tindakan paling aman, agar luka bakar dan luka lama sembuh secara total, maka Anda perlu berkonsultasi langsung dengan dokter.

Share